Jam dinding di ruang tamu rumah Dimas berhenti tepat pada pukul 10.15. Jarumnya diam, tertutup debu, dan kacanya retak di salah satu sudut—seperti hati rumah itu sendiri. Sejak hari ibunya pergi, jam tersebut tak pernah lagi berdetak. Waktu seolah ikut berhenti di sana.
Setiap pagi dan sore, Dimas melewati ruang tamu dengan langkah pelan. Ia sering berhenti sejenak, menatap jam itu tanpa berani menyentuhnya. Dalam diam, ia teringat masa ketika ruang tamu selalu dipenuhi tawa. Ibunya sering duduk di sofa sambil melipat pakaian, ayahnya membaca koran, dan Dimas bermain di lantai. Saat itu, suara detik jam terdengar biasa saja—namun kini justru sangat ia rindukan.
Ayah Dimas jarang berada di rumah. Jika ada pun, ia lebih sering diam, duduk menatap televisi yang tak benar-benar ditontonnya. Setiap kali pandangan Dimas beralih ke jam dinding, ayahnya hanya berkata singkat, “Biarkan saja.” Nada suaranya datar, tapi menyimpan luka yang tak pernah ia ceritakan.
Suatu sore yang sunyi, ketika hujan turun pelan di luar dan ayahnya belum pulang dari kantor, Dimas berdiri lama di depan jam dinding itu. Dadanya terasa sesak. Ia merasa rumah ini terlalu sepi, terlalu hampa. Akhirnya, dengan keberanian yang dikumpulkan dari kerinduan, ia menurunkan jam tersebut dari dinding.
Tangannya gemetar saat membuka penutup belakangnya. Debu halus beterbangan, membuat matanya perih. Dimas membersihkannya perlahan, seolah takut menyakiti jam itu. Ia mengganti baterainya dengan hati-hati, lalu menggantungkan kembali jam ke tempat semula.
Sesaat kemudian, jarum jam bergerak. Detik… detik… detik…
Suara itu terdengar kecil, namun memenuhi seluruh ruangan. Mata Dimas berkaca-kaca. Ia duduk di lantai, memeluk lututnya, membiarkan air matanya jatuh diam-diam. Untuk pertama kalinya setelah lama, rumah itu kembali memiliki suara.
Malamnya, ayah Dimas pulang. Begitu memasuki ruang tamu, langkahnya terhenti. Ia menatap jam dinding yang kini kembali berdetak. Matanya memerah. Napasnya tertahan, seakan waktu benar-benar menariknya kembali ke masa lalu.
Ayah duduk perlahan di sofa, lalu memanggil Dimas ke sisinya. Untuk pertama kalinya sejak kepergian ibu, ayah menangis. Ia bercerita tentang betapa ia merindukan ibu Dimas, tentang rasa lelah menjadi kuat sendirian, dan tentang ketakutannya kehilangan kenangan jika semuanya kembali berjalan.
Dimas mendengarkan sambil menggenggam tangan ayahnya erat.
Sejak malam itu, jam dinding terus berdetak. Tidak menghapus kehilangan, tetapi mengingatkan mereka bahwa waktu harus tetap berjalan. Rumah itu masih menyimpan duka, namun kini juga menyimpan harapan—bahwa mereka bisa saling menguatkan, sedikit demi sedikit.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar