Minggu, 16 November 2025

Hutan yang Tak Bisa Tidur

Di sebuah hutan pinus yang lebat, hiduplah tiga orang sahabat yang bernama Piko si tupai, Lio si burung hantu kecil, dan Mimi si kelinci. Mereka tinggal di dekat pohon besar yang akarnya membentuk sepert rumah kecil. Mereka selalu main bersama hingga lupa waktu, begitu indahnya persahabatan mereka. 

 

Suatu malam, angin bertiup pelan. Tidak ada suara jangkrik bersaut – sautan. Tidak ada suara dedaunan. Malam itu, hutan terasa sunyi sekali. Karena kesunyian itu hewan – hewan yang berada di hutan pun sulit untuk tertidur. Para hewan disana sudah sering mendengar suara jangkrik, katak, dan jangkrik ketika menjelang tidur. Jadi, ketika suara itu menghilang menghilang para hewan sulit untuk tidur.

 

Piko mengguling – guling di sarangnya dan berkata “ ini kenapa aku tidak mengantuk sih ? biasanya ketika sudah larut malam aku sudah terlelap. “ Di cabang pohon atas, Lio membuka sayapnya dan menjawab pertanyaan piko “ aku biasanya tidur siang bangun malam. Kenapa di malam kali ini mataku terasa berat dan mengantuk. Tetapi aku tidak bisa tidur.” Mimi yang tinggal di lubang kecil di bawah akar keluar sambil menguap. Lalu berkata, “ hmmzz, kayaknya hutan kita lupa cara untuk tidurr dehh. “

 

Mereka pun memutuskan mencari tahu tentang keadaan di malam itu. Mereka berjalan, sambil menengok kanan dan kiri memastikan apakah ada sesuatu. Saat mereka melewati jembatan kecil di sungai mereka melihat pada genangan air. Ternyata bintang – bintang di langit tidak berkelip. Biasanya bintang akan bergerak lembut, membuat hutan menjadi mengantuk.

 

“ ah, bintang – bintangnya yang lupa tidur. Makanya kita tidak mengantuk,” kata Lio. Piko dan Mimi saling pandang, lalu tertawa tapi heran juga dengan fenomena ini.” Lalu, bagaimana cara agar bintang bisa tertidur ?” kata Mimi dengan ekspresi kebingungan. Piko berkata, “ bagaimana kalau kita menyanyikan tidur untuk para bintang ?”. Lio dan Mimi pun setuju dengan ide Piko.

 

Piko langsung mencari biji pinus yang bisa dipakai seperti drum. Mimi memetik rumput panjang yang bisa ditiup seperti seruling kecil. Lio berdiri di atas batu dan menghitung, “ sudah siapp sahabatt – sahabattkuuuu ? “. Mimi dan Piko menjawab “ sudaahhh “. “ baiklahhh satuuu… duaaa… tigaaa…. “ kata Lio dengan bersemangat. Mereka memulai lagu sederhana, yang memiliki alunan lembut,pelan, dan penuh kehangatan. Suara seruling Mimi, ketukan drum Piko, dan nada “ huuu “ lembut dari Lio bergabung menjadi melodi indah.

 

Lagu itu melayang ke langit. Tak lama kemudian satu bintang berkelip kecil dan disusul bintang lainnya. Satu persatu bulan mulai berkelip dengan indah dan berkilau lembut. Cahaya bintang yang berkilau membuat suasana hutan menjadi hangat. Piko menguap, Mimi menggeliat, dan Lio menutup sayapnya. “ hutan kita sudah mengantuk “ kata Mimi sambil tersenyum dan di balas senyum hangat oleh Piko dan Lio.

 

Mereka pun kembali kerumah kecil mereka. Sebelum tidur, Piko berkata pelan “ besok kalau bintang lupa lagi, kita nyanyikan lagu lagii yaaa”. Lio menjawab “iyaa, sudahlahh mari kita tidurr sudah malam juga” dan dibalas jempol oleh Mimi dan Piko. Di malam itu seluruh hutan tertidur lelap bersama. Dengan penuh hangat, damai, dan mimpi indah.

Jumat, 14 November 2025

Mata Ajaib Ibu

 



Di sebuah desa kecil yang di kelilingi sawah hijau dan tumbuhan yang asri, hiduplah seorang anak laki - laki bernama Riko dan ibunya. Ibu Riko sangat baik dan penyayang. Ia selalu membangunkan Riko setiap pagi, membuatkan sarapan, dan mengantar Riko pergi ke sekolah

 

Tapi dibalik itu, ada suatu hal yang membuat Riko merasa malu yaitu ibunya hanya memiliki satu mata. Teman - teman Riko di sekolah tak jarang untuk mengejek dan menertawakannya." lihat, ibu riko hanya memiliki satu mata " sambil tertawa.

 

Riko menjadi malu, sedih, dan marah. " Ibu kenapa sih hanya memiliki satu mata ? aku malu bu..... " katanya suatu hari. Ibu hanya tersenyum lembut dan berkata, " maaf ya nak, ibu tidak sempurna seperti ibu lainnya. “Lalu, riko hanya menanggapi dengan lirikan yang tajam. Malam itu, riko melihat ibunya menangis pelan di dalam kamar. tetapi riko tidak menghiraukannya dan keesokan harinya ia bertekad untuk belajar sungguh - sungguh agar bisa pergi jauh dari desa.

 

Hari - hari berlalu.....

Riko pun bertumbuh besar dan memutuskan untuk merantau ke kota melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Ibu berdoa setiap malam agar riko bahagia selalu.

 

Tak terasa, tahun demi tahun telah berlalu sangat cepat.

Riko bertambah dewasa dan sukses. Ia tinggal di kita besar, bekerja di kantor bagus, dan mempunyai keluarga kecil yang bahagia. Namun, Riko sudah lama tidak pulang ke desa dan jarang mengingat ibunya.

 

Suatu sore, ketika Riko sedang bersantai dan menikmati keindahan langit sore. ada seseorang yang memencet bel.

Ting….. Ting…… Ting….. Ting….

 

Riko segera membuka pintu lalu, melihat siapa orang itu.

Ternyata, itu adalah ibu Riko. Riko terkejut, bagaimana ibunya bisa sampai ke rumahnya yang bahkan tidak ada yang memberitahunya. Riko berkata " ibu.. saya sibuk... jangan ke sini lagi ya, " katanya pelan agar anak - anaknya tidak mengetahuinya. Ibu menggaguk dan berjata " baiklah, nak. maaf ya , " lalu pergi perlahan.

 

Beberapa hari kemudian, Riko mendapat undangan reuni sekolah. Ia memutuskan pergi ke desa tanpa memberitahu keluarganya. Setelah Riko selesai melaksanakan reuni. Riko pun mendatangi rumah lamanya, gubuk kecil yang dulu ia tinggali. Di sana, ia melihat ibunya sedang duduk santai sambil memegang secarik kertas yang akan di berikan untuk Riko. " Riko kemarilah nak, ibu menuliskan secarik surat untukmu  " panggil ibu kepada Riko. Riko pun menuruti kemauan ibunya dan mmebaca surat itu. ia membaca dengan sangat gemetar dan sangat tidak menyangka.

 

“ Anakku tersayang, maafkan ibumu ini yang hanya memiliki satu mata. Saat kau kecil, kau pernah jatuh dan kehilangan satu matamu. Ibu tidak tega melihatmu tumbuh seperti itu. Jadi ibu memberikan satu mata ibu agar kau bisa melihat dunia dengan indah.

Ibu sangat bangga padamu, nak.

Kau tumbuh menjadi orang hebat dan ibu bahagia bisa melihat dunia tanpa satu mata.

Ibu selalu mencintaimu, selamanya "

 

Air mata Riko pun menetes deras. Ia sadar, dibalik satu mata ibunya, tersimpan cinta yang tak terbatas. Riko langsung berlari memeluk ibunya dan berkata " terima kasih buu, maaf atas segala perbuatanku kepada ibu ". Ibunya tersenyum lembut dan berkata " iya nak, ibu sudah memafkannya. "

 

Sejak hari itu, Riko selalu bercerita  kepada anaknya tentang seorang ibu yang rela memberikan segalanya demi anaknya. Setiap malam Riko memandangi bintang dengan berkata " terima kasih ibu, karena cintamu aku bisa melihat dunia."

 

Ib : Kisah - Kisah Paling Mengharukan di Dunia

Suara di Balik Pintu

Setiap malam, ketika rumah-rumah mulai sunyi dan lampu kamar dinyalakan, Tio selalu mendengar suara piano dari rumah sebelah. Nadanya terden...