Di sebuah hutan pinus yang lebat, hiduplah tiga orang sahabat yang bernama Piko si tupai, Lio si burung hantu kecil, dan Mimi si kelinci. Mereka tinggal di dekat pohon besar yang akarnya membentuk sepert rumah kecil. Mereka selalu main bersama hingga lupa waktu, begitu indahnya persahabatan mereka.
Suatu malam, angin bertiup pelan.
Tidak ada suara jangkrik bersaut – sautan. Tidak ada suara dedaunan. Malam itu,
hutan terasa sunyi sekali. Karena kesunyian itu hewan – hewan yang berada di
hutan pun sulit untuk tertidur. Para hewan disana sudah sering mendengar suara
jangkrik, katak, dan jangkrik ketika menjelang tidur. Jadi, ketika suara itu
menghilang menghilang para hewan sulit untuk tidur.
Piko mengguling – guling di
sarangnya dan berkata “ ini kenapa aku tidak mengantuk sih ? biasanya ketika
sudah larut malam aku sudah terlelap. “ Di cabang pohon atas, Lio membuka
sayapnya dan menjawab pertanyaan piko “ aku biasanya tidur siang bangun malam.
Kenapa di malam kali ini mataku terasa berat dan mengantuk. Tetapi aku tidak
bisa tidur.” Mimi yang tinggal di lubang kecil di bawah akar keluar sambil
menguap. Lalu berkata, “ hmmzz, kayaknya hutan kita lupa cara untuk tidurr
dehh. “
Mereka pun memutuskan mencari
tahu tentang keadaan di malam itu. Mereka berjalan, sambil menengok kanan dan
kiri memastikan apakah ada sesuatu. Saat mereka melewati jembatan kecil di
sungai mereka melihat pada genangan air. Ternyata bintang – bintang di langit
tidak berkelip. Biasanya bintang akan bergerak lembut, membuat hutan menjadi
mengantuk.
“ ah, bintang – bintangnya yang
lupa tidur. Makanya kita tidak mengantuk,” kata Lio. Piko dan Mimi saling
pandang, lalu tertawa tapi heran juga dengan fenomena ini.” Lalu, bagaimana
cara agar bintang bisa tertidur ?” kata Mimi dengan ekspresi kebingungan. Piko
berkata, “ bagaimana kalau kita menyanyikan tidur untuk para bintang ?”. Lio
dan Mimi pun setuju dengan ide Piko.
Piko langsung mencari biji pinus
yang bisa dipakai seperti drum. Mimi memetik rumput panjang yang bisa ditiup
seperti seruling kecil. Lio berdiri di atas batu dan menghitung, “ sudah siapp sahabatt
– sahabattkuuuu ? “. Mimi dan Piko menjawab “ sudaahhh “. “ baiklahhh satuuu…
duaaa… tigaaa…. “ kata Lio dengan bersemangat. Mereka memulai lagu sederhana,
yang memiliki alunan lembut,pelan, dan penuh kehangatan. Suara seruling Mimi,
ketukan drum Piko, dan nada “ huuu “ lembut dari Lio bergabung menjadi melodi
indah.
Lagu itu melayang ke langit. Tak
lama kemudian satu bintang berkelip kecil dan disusul bintang lainnya. Satu persatu
bulan mulai berkelip dengan indah dan berkilau lembut. Cahaya bintang yang
berkilau membuat suasana hutan menjadi hangat. Piko menguap, Mimi menggeliat,
dan Lio menutup sayapnya. “ hutan kita sudah mengantuk “ kata Mimi sambil
tersenyum dan di balas senyum hangat oleh Piko dan Lio.
Mereka pun kembali kerumah kecil mereka.
Sebelum tidur, Piko berkata pelan “ besok kalau bintang lupa lagi, kita
nyanyikan lagu lagii yaaa”. Lio menjawab “iyaa, sudahlahh mari kita tidurr sudah
malam juga” dan dibalas jempol oleh Mimi dan Piko. Di malam itu seluruh hutan tertidur
lelap bersama. Dengan penuh hangat, damai, dan mimpi indah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar